Hanya 2 Bulan, Pusat Pemulihan Gizi Landak Berhasil Ubah Status Gizi Buruk Balita Menjadi Baik
- account_circle Hendri M
- calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
- print Cetak

Hanya 2 Bulan, Pusat Pemulihan Gizi Landak Berhasil Ubah Status Gizi Buruk Balita Menjadi Baik. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NgabangTimes.Com – Upaya Pemerintah Kabupaten Landak dalam memerangi stunting dan gizi buruk mulai membuahkan hasil nyata. Sejak diresmikan sekitar dua bulan lalu, Pusat Pemulihan Gizi (PPG) Kabupaten Landak sukses meningkatkan status gizi serta berat badan sejumlah balita yang sebelumnya masuk dalam kategori gizi buruk dan gizi kurang.
Penanggung Jawab Gizi PPG Landak, Tri Hidayat, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada empat pasien balita yang ditangani secara intensif. Hasilnya sangat menggembirakan; dua di antaranya menunjukkan perkembangan berat badan yang sangat signifikan.
“Progres pasien terus membaik. Target kami jelas, yakni perubahan status gizi dari gizi buruk menjadi gizi kurang, atau dari gizi kurang menjadi gizi baik,” ujar Tri Hidayat, Kamis (15/1/2026).
Salah satu bukti keberhasilan PPG adalah Jason, seorang balita yang saat pertama kali masuk hanya memiliki berat badan 7,6 kilogram. Setelah menjalani perawatan dan pemantauan rutin, berat badan Jason kini telah mencapai 8,5 kilogram hingga 8,8 kilogram.
“Jason saat ini sudah masuk kategori status gizi baik berdasarkan perhitungan berat badan menurut tinggi badan,” jelas Tri.
Hal serupa juga dialami oleh Meko. Balita ini mengalami kenaikan berat badan dari 10,9 kilogram menjadi 11,3 kilogram. Meski sempat terjadi fluktuasi saat kembali ke rumah (rawat jalan), tren pertumbuhannya tetap menunjukkan grafik yang positif.
Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menegaskan bahwa PPG didesain bukan hanya sebagai tempat pengobatan, melainkan ruang edukasi bagi orang tua. Di sini, petugas dan perawat bersiaga hampir 24 jam untuk mendampingi orang tua pasien.
“Di PPG, orang tua didampingi secara langsung, mulai dari pengaturan jadwal makan utama, pemberian susu khusus gizi buruk, hingga edukasi pengolahan makanan yang dilakukan secara terstruktur,” jelas Karolin.
Selain asupan nutrisi, PPG juga menanamkan perubahan perilaku (perubahan pola asuh). Orang tua diajarkan pentingnya higiene sanitasi, seperti kebiasaan mencuci tangan serta menjaga kebersihan lingkungan agar anak tidak mudah terserang penyakit yang bisa menghambat penyerapan gizi.
Kegembiraan terpancar dari Deva Sustri, warga Desa Sungai Keli yang anaknya, Jaksen Ari, dirawat di PPG. Ia mengaku sangat bersyukur karena berat badan anaknya naik drastis dan dirinya mendapatkan banyak ilmu baru.
“Diajarkan cara mencuci tangan yang benar, jadwal makan, cara membuat menu bergizi, serta pemberian susu yang teratur. Kami sangat berterima kasih kepada Pemkab Landak atas adanya PPG ini,” ungkap Deva.
PPG Kabupaten Landak sendiri menerapkan mekanisme rujukan dari Puskesmas. Balita yang tidak mengalami kenaikan berat badan selama tiga bulan berturut-turut dapat dirujuk ke PPG untuk mendapatkan intervensi gratis yang didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Landak.
Keberhasilan awal ini diharapkan menjadi pelecut semangat bagi tenaga kesehatan dan masyarakat untuk terus bersinergi dalam menekan angka stunting demi menciptakan generasi Landak yang lebih berkualitas di masa depan.
- Penulis: Hendri M
- Editor: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar